Jumat, 31 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Tanah Air
Tionghoa Kalbar, Jatuh Bangun di Bumi Borneo
Senin, 15 April 2013 | 20:53 WIB
 

Oleh A Handoko

KOMPAS/A HANDOKO
Tugu tua di Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, yang dibangun tahun 1939 oleh warga Tionghoa untuk menghormati Lo Fong Pak, pemimpin pertama Kongsi Lanfang. Kongsi tambang itu mulai beroperasi tahun 1777 dan menjalankan sistem demokrasi untuk memilih pemimpinnya. Tugu itu masih terpelihara, seperti terlihat pekan lalu.

Ingatan Bong Khin Liong (52) kembali ke masa kecilnya, 46 tahun silam. Kala itu umurnya 6 tahun saat orang-orang China dituduh sebagai komunis. Prahara politik tahun 1967 memaksa orang-orang Tionghoa tercerai-berai dan jatuh melarat.

Liong kecil dan ketiga kakaknya dibawa lari orangtuanya ke sebuah bukit, menjauh dari rumah mereka di Kecamatan Anjongan, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Pengusiran orang-orang Tionghoa di beberapa daerah di Kalbar berembus kencang dan menciutkan nyali.

Aksi pengusiran yang dilakukan kaki tangan penguasa saat itu membuat orang-orang Tionghoa lari ke perbukitan untuk bersembunyi. Jika tetap berada di rumah, keselamatan mereka terancam.

”Kami terpaksa sembunyi tiga hari,” ujar ayah lima anak yang kini tinggal di Gang Mantuka, Jalan Selat Sumba, Kota Pontianak, ini.

Peristiwa tahun 1967 menjadi salah satu pangkal kemiskinan sebagian warga Tionghoa di Kalbar. Permukiman masyarakat Tionghoa yang kumuh dengan mudah ditemukan di Pontianak, Singkawang, Kubu Raya, dan Pemangkat. Kemiskinan itu merupakan wajah lain kelompok etnis Tionghoa Indonesia yang selama ini telanjur dikenal mapan.

Prahara 1967 adalah salah satu rentetan peristiwa yang dihadapi oleh Tionghoa di Kalbar. Sejak migrasi besar-besaran dari China ke Kalbar tahun 1740, mereka berulang kali menghadapi tantangan. Dalam kurun 1760-1770, setiap tahun datang 1.500-2.000 perantau dari China (Yuan Bingling, dalam Chinese Democracies, tahun 2000).

 

no flash player detected

Silahkan mengunduh flash player terbaru.

untuk melihat video ini.

 

Klik di sini untuk mengunduh flash player terbaru

Pada peristiwa 1967, orang-orang Tionghoa di perkampungan Liong baru berani keluar dari persembunyian setelah keriuhan warga menuntut pengusiran mereka mereda. Mereka lalu diungsikan oleh aparat ke beberapa wilayah, termasuk Kota Pontianak.

”Puluhan kendaraan disiapkan di jalan untuk mengangkut warga Tionghoa. Ratusan orang dari Anjongan diminta naik mobil itu lalu dibawa ke Kota Pontianak,” kata Liong.

Peristiwa di Anjongan itu juga terjadi di sejumlah basis permukiman warga Tionghoa di Kalbar, seperti Monterado, Kabupaten Bengkayang dan Mandor, Kabupaten Landak. Setelah suasana reda, mereka umumnya tidak kembali lagi ke tempat tinggal semula karena tak ada jaminan keamanan.

Kemapanan hidup sebagai petani, pedagang, dan pengusaha buyar. Semua harus mereka tinggalkan. Pengungsi Tionghoa itu kemudian menetap di Kota Pontianak; Kota Singkawang; Kecamatan Pemangkat, Kabupaten Sambas, dan sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Pontianak. Di Kota Pontianak, Gang Mantuka—tempat tinggal Liong dan keluarganya—adalah salah satu permukiman pengungsi 1967 dari sejumlah daerah di Kalbar.

Pengamat sosial dari Sekolah Tinggi Teologi Pastor Bonus Pontianak, William Chang, menjelaskan, pengusiran orang Tionghoa itu adalah implementasi politik nonhumanis yang mengorbankan rasa kemanusiaan. ”Masyarakat Tionghoa yang sudah hidup mapan di kampung dicabut akar kehidupannya dan dipaksa tinggal di lingkungan yang baru. Mereka adalah korban kebijakan politik. Mereka adalah rakyat jelata, bukan politisi,” tutur Chang.

Kompas/ A Handoko
Umat berdoa di Wihara Bodhisatva Karaniya Metta, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (4/2), untuk persiapan tahun baru Imlek 2564. Wihara itu merupakan gabungan tiga kelenteng dan merupakan wihara tua di Kota Pontianak yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Peristiwa tahun 1967 itulah yang, menurut Chang, menjadi salah satu pangkal soal kemiskinan yang dialami oleh sebagian warga Tionghoa di Kalbar saat ini. Permukiman masyarakat Tionghoa kurang mampu itu mudah ditemukan di sekitar Pontianak, Singkawang, dan Pemangkat. Kemiskinan itu adalah wajah lain kelompok etnis Tionghoa Indonesia yang biasanya dikenal mapan.

Pengusiran tahun 1967 ternyata bukan tantangan pertama yang dihadapi warga China keturunan di Kalbar sejak kedatangan mereka pada tahun 1740. Mary Somers Heidhues dalam bukunya Golddigers, Farmers, and Traders in The Chinese District of West Kalimantan Indonesia mencatat, sebagian warga etnis Tionghoa bersama warga etnis lainnya menjadi korban kekerasan Jepang di Kalbar pada kurun 1942-1945.

Sekitar satu abad sebelum Jepang berkuasa di Indonesia, orang-orang keturunan perantau dari Tiongkok di Kalbar juga menjadi korban politik divide et impera yang diterapkan Belanda. Sesama masyarakat Tionghoa yang mengelola kongsi pertambangan di Mandor dan Monterado terlibat pertikaian akibat hasutan kolonial.

Chang menambahkan, ada tiga hal yang menyebabkan masyarakat Tionghoa bertahan dari berbagai peristiwa itu. ”Mereka punya alasan untuk hidup, berkembang, dan menyiapkan masa depan. Sejak awal kedatangan mereka dari Tiongkok, falsafah itulah yang dipegang sehingga keturunan mereka tetap bertahan hingga sekarang,” kata Chang.

Tantangan yang dihadapi para perantau dari China hingga peristiwa pengusiran pada tahun 1967 pun nyaris sama. Mereka dihadapkan pada persoalan komunikasi, kebudayaan, dan politik di lingkungan yang baru.

Kondisi itu, menurut Chang, membuat komunitas Tionghoa cenderung menyiapkan zona aman. Kongsi usaha adalah implementasi zona aman para perantauan dari China. Permukiman yang mayoritas penduduknya adalah Tionghoa juga menjadi perwujudan zona aman. Kendati pembauran dengan kelompok masyarakat lainnya gencar digalakkan, model itu memberi rasa aman bagi masyarakat Tionghoa. Setidaknya, karena persamaan bahasa dan kultur.

Guru Besar FISIP Universitas Tanjungpura Syarif Ibrahim Alqadrie menilai, keragaman etnis di Kalbar merupakan modal sosial yang penting. Walaupun Kalbar memiliki sejarah konflik sosial, keragaman etnis adalah kekuatan daerah memberi warna peradaban.

Kelompok etnis Tionghoa memberi contoh bagaimana menumbuhkan solidaritas sesama komunitas.

Editor: Desk Multimedia Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.